Selasa, 21 Februari 2012

PENGARUH PENGGUNAAN BERBAGAI JENIS PAKAN DENGAN PROTEIN BERBEDA TERHADAP KINERJA PERTUMBUHAN IKAN NILA Oreochromis niloticus

PENGARUH PENGGUNAAN BERBAGAI JENIS PAKAN DENGAN PROTEIN BERBEDA TERHADAP KINERJA PERTUMBUHAN  IKAN NILA Oreochromis niloticus

 
I. PENDAHULUAN

1.         Latar Belakang
Budidaya merupakan salah satu upaya manusia untuk meningkatkan nilai dari suatu komoditas dengan melihat berbagai aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Salah satu ikan konsumsi yang banyak dibudidayakan dan digemari oleh masyarakat adalah ikan nila (Oreochromis niloticus). Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan yang berasal dari Mesir dan dahulunya berhabitat di daerah Sungai Nil.
Ikan nila mulai menjadi trend ikan konsumsi baru setelah ikan mujair dikarenakan untuk melakukan budidaya ikan ini relatif lebih mudah. Selain itu pertumbuhan ikan ini lebih cepat dibandingkan dengan ikan mujair. Namun, ikan ini akan tumbuh dengan maksimum jika faktor-faktor pendukung untuk pertumbuhan ikan ini optimum. Hal ini terjadi karena pertumbuhan dapat terjadi jika kebutuhan energi untuk pemeliharaan proses-proses hidup dan fungsi-fungsi lainnya telah terpenuhi (Brett dan Grovers, 1979 dalam Syamsunarno, 2008).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan terdiri dari atas faktor luar dan faktor dalam. Salah satu faktor luar yang sangat penting bagi pertumbuhan ikan adalah pakan,sedangkan faktor dalam adalah genetik dari ikan tersebut.  Kebutuhan nutrisi pakan haruslah seimbang seperti kadar protein, lemak, karbohidrat, abu, dan mikro nutrient lainnya harus ada pada pakan tersebut. Jika kadar tersebut cukup dan sesuai maka pertumbuhan ikan nila akan menjadi lebih optimum.
Selain itu, aspek lain adalah cara pemberian pakan. Pemberian pakan adalah mengetahui tingkat pemberian pakan, frekuensi pemberian pakan serta waktu pemberian pakan. Oleh karena itu, praktikum ini patut untuk dilakukan karena jenis pakan yang berbeda dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan nila.

2.         Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan dengan protein yang berbeda terhadap pertumbuhan ikan nila.

II. TINJAUAN PUSTAKA

1.      Kebutuhan Nutrien Ikan Nila
Ikan membutuhkan nutrient untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh dalam proses hidupnya. Banyak faktor yang mempengaruhinya antara lain jumlah dan jenis asam amino esnsial, kandungan protein, kandung energy dan faktor fisiolgis ikan (Lovell, 1988 dalam  Merantica, 2007). Makanan bagi ikan diklasifikasikan menjadi makanan yang mengandung energy, yaitu protein, lemak, dan karbohidrat, serta yang tidak mengandung energy seperti vitamin, mineral, dan air (NRC, 1977 dalam Merantica, 2007). Protein merupakan molekul kompleks yang terdiri dari asam-asam amino baik esensial maupun non esensial (NRC, 1983 dalam Nurjanah, 2005). Protein mengandung asam-asam amino yang diperlukan antara lain untuk pertumbuhan, pemeliharaan jaringan tubuh, pembentukan enzim dan beberapa hormon, antibodi dalam tubuh serta sumber energi.
Lemak merupakan komponen kedua terpenting setelah protein dan berperan dalam memelihara struktur dan fungsi membran sel. Menurut Goddard (1996) dalam Ikbal (2006) bahwa ikan yang hidup di air tawar dan perairan tropis hanya membutuhkan asam lemak n-6 atau kombinasi dari asam lemak n-3 dan n-6. Lemak yang dibutuhkan oleh ikan adalah berkisar antara 4-18% (Hasting, 1979 dalam Ikbal, 2006). Pada pakan, lemak berfungsi sebagai pelarut beberapa vitamin. Pada pakan yang banyak menggunakan minyak ikan, biasanya ditambahkan anti oksidan untuk mencegah oksidasi yang bereaksi dengan radikal bebas (Hardy, 1996 dalam Ikbal, 2006).
Kebutuhan karbohidrat pada ikan nila sebesar 45% (Shimeno et al, 1997 dalam Merantica W, 2007). Kemampuan ikan untuk memanfaatkan karbohidrat tergantung pada kemampuannya untu menghasilkan enzim amilase. Selain itu, kebutuhan vitamin dan mineral juga perlu diperhatikan, karena tanpa adanya nutrient ini maka pertumbuhan ikan nila menjadi kurang optimum. Mineral merupakan unsur yang dapat menjaga keseimbangan asam dan basa, proses osmotik, proses pembekuan darah, fungsi otot dan sebagai kofaktor dalam reaksi enzimatik (NRC, 1983 dalam Nurjanah, 2005). Adapun kebutuhan nutrisi ikan nila adalah untuk ikan nila muda sebesar 50% protein dan 8% lemak, sedangkan untuk ikan nila dewasa sebesar 25-30% protein dan 7% lemak (Anonim2, 2007).

2.      Protein Pakan
Pakan ikan didasarkan pada kandungan keseimbangan protein, lemak, dan serat  untuk kebutuhan ikan tertentu akan memacu pertumbuhan ikan yang cepat besar, akan tetapi bila nutrisi yang dibutuhkan ikan kurang maka pertumbuhan ikan akan lambat berakibat pada biaya dan waktu panen yang cukup lama. Protein ikan relatif besar, yaitu antara 15-25 %/100 g daging ikan. Protein ikan banyak mengandung asam amino esensial yang kandungannya bervariasi, tergantung pada jenis ikan. Pada umumnya, kandungan asam amino dalam daging ikan kaya akan lisin, tetapi kurang akan kandungan triptofan (Junianto, 2003). Menurut Mujiman (1984) dikatakan bahwa protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan, baik untuk menghasilkan tenaga maupun untuk pertumbuhan. Fungsi protein di antaranya adalah sebagai berikut:
1.      Dipakai untuk memperbaiki jaringan yang rusak dan untuk membangun jaringan baru (untuk pertumbuhan)
2.      Sebagai sumber energi, atau dapat digunakan sebagai substrat untuk pembentukan jaringan karbohidrat atau lipid.
3.      Untuk pembentukan hormon, enzim dan zat penting lainnya seperti antibodi dan hemoglobin.
4.      Mengatur  keseimbangan cairan didalam jaringan dan pembuluh darah.
Kualitas protein dapat dilihat dari keseimbangan asam amino yang terdapat dalam bahan pakan sesuai dengan kebutuhan ikan yang dipelihara. Selain itu asam amino merupakan bagian terkecil dari protein. Pada umumnya kebutuhan ikan terhadap protein dapat digolongkan secara garis besar sebagai berikut 15 - 30% dari total pakan bagi ikan herbivora, dan 45% bagi ikan karnivora (Anonim3, 2003).
Ikan nila membutuhkan pakan yang berupa pellet dengan kadar protein 25% dan komposisi bahan pakan buatan untuk ikan Nila terdiri atas tepung ikan 50%, tepung kedelai 25%, bungkil kedelai 20%, minyak ikan 3% dan vitamin ditambah mineral secukupnya. Selain itu pakan buatan harus mengandung protein 20% - 25%, lemak 6% - 8%. Akbar (2000), menambahkan bahwa tingkat protein optimum dalam pakan untuk mendukung pertumbuhan ikan berkisar antara 25-50%.

2.3 Bahan Pakan Alternatif
Ikan nila termasuk jenis omnivora, yaitu pemakan tumbuhan dan hewan. Jenis makanan yang dibutuhkan tergantung umurnya. Pada stadia larva pakan utamanya  adalah alga bersel tunggal crustacea kecil dan benthos. Ukuran benih sampai fingerling lebih menyukai zooplankton. Sedangkan ukuran pembesaran menyukai pakan buatan (Sudjana, 1988). Salah satu alternatif bahan pakan penyusun ransum ikan nila adalah penggunaan limbah sayuran sebagai bahan pakan sumber protein nabati.
Ikan nila termasuk ikan omnivora yang cenderung herbivora yang membutuhkan protein kasar sekitar 25-30%, sehingga memungkinan limbah sayuran yang telah ditepungkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan. Limbah sayuran mempunyai kandungan gizi rendah, yaitu:  protein kasar sebesar 1-15% dan serat kasar sebesar 5-38%. Namun limbah sayuran ini akan lebih bernilai guna jika dimanfaatkan sebagai pakan melalui pengolahan. Oleh karena itu, limbah sayuran sangat berpotensi untuk dijadikan bahan pakan alternatif ikan khususnya ikan yang cenderung herbivora seperti ikan nila.
Selain itu, ampas tahu dapat juga dijadikan sebagai bahan pakan alternative ikan karena ampas tahu Ampas tahu memiliki daya tahan yang rendah, karena ampas tahu segar masih mengandung kadar air tinggi yaitu sekitar 84,5% dari bobotnya. Ampas tahu basah akan segera menjadi rusak dalam waktu 2-3 hari sehingga tidak disukai oleh ikan. Ampas tahu kering mengandung kadar air sekitar 10,0 – 5,5% (Pulungan et.al, 1984). Ampas tahu masih mengandung protein sebesar 17% dari jumlah protein kedelai. Apabila mengandung protein kedelai sebesar 35%, maka kandungan protein ampas tahu sebesar 6% berdasarkan berat bersih pakan (Shurtleff dan Aoyagi, 1979).
Bahan lain yang dapat dijadikan suatu pakan alternative adalah MBM (Meat Bone Meal). Bahan ini merupakan hasil pengolahan limbah yang berasal dari daging dan tulang sapi, kambing maupun domba.
            Suatu bahan dikatakn MBM jika kandungan fosfor dari daging dan tulang tersebut mempunyai kadar lebih dari 4,4%, sedangkan yang kurang dari 4,4% dikatakan dengan tepung daging biasa. MBM hasil perebusan dan pengeringan memiliki kadunngan protein 50%, lemak 8-10%, abu 28%, Ca 10%, dan P 5%. Kandungan nutrisi pada MBM bervarisi tergantung pada proses pemasakan, pengeringan dan kandungan gelatin (Scott et al, 1982 dalam Mulyaningtyas, 2009).
            Selain itu, bahan pakan alternative yang biasa digunakan untuk budidaya ikan nila adalah tepung bungkil kedelai. Bahan ini mempunyai kaddar protein sebesar 39-50% dengan harga yang lebih murah dan ketersediaannya cukup besar disbanding dengan tepung ikan (Suprayudi, 1995 dalam  Mulyaningtyas, 2009).

4.                  Kecernaan
Menururt Cho, et al (1985) serat kasar akan berpengaruh terhadap nilai kecernaan protein. Serat kasar yang tinggi menyebabkan porsi ekskreta lebih besar, sehingga menyebabkan semakin berkurangnya masukan protein yang dapat dicerna. Zat gizi pakan dan pertumbuhan ikan merupakan faktor pembatas dalam suatu model pertumbuhan. Kecernaan adalah bagian pakan yang dikonsumsi dan tidak dikeluarkan menjadi feses (Maynard, et al. 1979).
            Kapasitas lambung dan laju pakan dalam saluran cerna merupakan variabel dari kecernaan. Ikan yang berbobot lebih kecil akan mengosongkan sejumlah pakan (% bobot tubuh per jam) dari dalam lambungnya lebih cepat dibanding ikan yang berbobot lebih besar, sehingga jumlah konsumsi pakan relatif (% bobot tubuh/hari) semakin kecil (Wooton, et al. 1980). Akan tetapi semakin besar ukuran ikan, kecernaan komponen serat semakin baik. Selain faktor ukuran ikan, nilai kecernaan dipengaruhi oleh komposisi pakan, jumlah konsumsi, status fisiologi, dan tata laksana pemberian pakan. Menurut Rankin dan Jensen (1993), frekuensi pemberian dua atau tiga kali sehari cukup untuk menghasilkan konsumsi maksimum, sehingga dapat digunakan dalam penelitian kecernaan. Terdapat dua metode untuk meneliti kecernaan, yaitu metode koleksi feses dan metode indikator (Maynard, et al. 1979).

5.                  Pertumbuhan Ikan
Istilah pembesaran berkaitan erat dengan pertumbuhan, petumbuhan didefiniskan sebagai pertambahan ukuran baik bobot maupun panjang dalam satu periode waktu tertentu (Effendi, 1979) sedangkan menurut Fitriah (2004) pertumbuhan adalah pertambahan ukuran baik panjang maupun berat. Perumbuhan dipengaruhi oleh faktor genetik, hormon dan lingkungan.
Aspek fisiologi pencernaan dan pakan merupakan faktor penting untuk memacu pertumbuhan, karena menurut Wiadnya, et.al (2000), lambatnya pertumbuhan diduga disebabkan dua faktor utama, yaitu :
a. Kondisi internal ikan sehubungan dengan kemampuan ikan dalam mencerna dan memanfaatkan pakan untuk pertambahan bobot tubuh. Benih ikan nila gift merupakan ikan yang termasuk hasil perbaikan genetika dari ikan mujair dan ikan nila, sehingga potensi tumbuhnya lebih baik.
b. Kondisi eksternal pakan, yang formulasinya belum mengandung sumber nutrien yang tepat dan lengkap bagi ikan sehingga tidak dapat memacu pertumbuhan pada tingkat optimal.

III. METODOLOGI

1.      Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilakukan pada tanggal 23 Februari 2010  hingga tanggal 30 Maret 2010  dan dilakukan pemberian pakan setiap tiga kali per hari di Laboratorium Nutrisi Ikan bawah, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

2.      Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain, akuarium, selang sipon, aerator, timbangan dan heater. Semetara itu, bahan  yang digunakan yaitu, ikan nila dan pakan ikan.

3.      Metode Pemeliharaan
3.1.Persiapan Wadah
Wadah yang digunakan berupa akuarium yang terlebih dahulu dibersihkan. Kemudian, bak diisi air dari tandon hingga tiga perempat dari isi akuarium, dan disediakan pula akuarium untuk ikan stok. Selain itu, disiapkan aerator dan heater, serta sirkulasi air dari tandon dan dipastikan air mengalir masuk kedalam akuarium dan air keluar secara teratur melalui selang pengeluaran yang dipasang pada akuarium. Penyiapan wadah bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang optimal bagi ikan serta menghilangkan (mengurangi) potensi serangan jamur (penyakit).
3.2.Persiapan Ikan
Persiapan ikan sebanyak 20 ekor dilakukan selama dua minggu. Persiapan tersebut dilakukan dengan pemberian pakan dengan kandungan protein yang sama dan pemberian pakan yang teratur setiap tiga kali per hari. Persiapan ikan dilakukan untuk penyamarataan kondisi ikan sebelum perlakuan ikan nila terhadap pakan dengan kadar protein yang berbeda. Selanjutnya dilakukan sampling untuk dipilih 10 ekor ikan untuk perlakuan pakan dengan kandungan protein yang berbeda.

3.3.                                    Pemeliharaan Ikan
Pemeliharaan ikan nila dibagi menjadi lima jenis pakan dengan empat ulangan untuk setiap jenis pakannya yaitu, pakan A (jenis pakan udang), pakan B (jenis pakan Takari), pakan C (jenis pakan Laju), pakan D (jenis pakan Kendi mas), dan pakan E (jenis pakan 788). Prosedur pemberian pakan dilakukan tiga kali dalam sehari, dengan jumlah pakan untuk setiap jenis masing-masing sebanyak 20 gram untuk sehari. Pakan yang dihabiskan dan sisa dihitung setiap satu minggu sekali.
3.3.4    Panen
Panen ikan nila dilakukan pada tanggal 30 Maret 2010, dengan dihitung jumlah ikan nila yang masih hidup, bobot rata-rata ikan nila, dan panjang rata-rata ikan nila.

4.      Analisis Data
Adapun yang dianalisa pada perlakuan terhadap pakan dengan kadar protein yang berbeda adalah sebagai berikut:
3.4.1 Laju Pertumbuhan Harian
            Laju pertumbuhan spesifik merupakan laju petumbuhan harian, persentase pertambahan bobot per hari. Menurut Fitriah (2004), bobot dan panjang ikan mengalami peningkatan selama masa pemeliharaan. Adanya variasi ukuran pada akhir pemeliharaan terkait dengan pemberian pakan buatan pada media dengan dosis yang berbeda. Laju pertumbuhan harian dapat dihitung dengan rumus:
SGR= tωtωo- 1 x 100%
Keterangan :   
SGR    : specific growth rate (laju pertumbuhan harian) (%)
ωo       : bobot rata-rata waktu ke-0 (gram/ekor)
ωt        : bobot rata-rata waktu ke-t (gram/ekor)
t           : lama pemeliharaan (hari)


3.4.2 Efisiensi Pakan
Efisiensi pakan adalah kemampuan untuk mengubah pakan kedalam bentuk tambahan bobot badan. Efisiensi pakan tergantung kepada aktivitas fisiologi ikan (organisme). Efisiensi pakan berkaitan erat dengan rataan pertambahan bobot badan harian dan konsumsi. Efisiensi penggunaan pakan merupakan perbandingan dari rataan pertambahan bobot badan dengan konsumsi pakan, efisiensi penggunaan pakan yang mengandung protein tinggi, lebih tinggi dibandingkan dengan pakan yang mengandung protein rendah. Hal ini sangat mendukung terhadap pertumbuhan yang mengutamakan protein sebagai kandungan bahan pakan dimana pada akhirnya memberikan dampak yang lebih baik pada ikan untuk meningkatkan pertambahan bobot badan yang diharapkan. Kandungan zat makanan yang buruk akan menyebabkan efisiensi pakan yang buruk. Efisiensi pakan dihitung menggunakan rumus:
EPP = Wt+Wd-WoFx100%
Keterangan:    
EP       : Efisiensi pakan (%)
            F          : Jumlah pakanyang diberikan (g)
            Wt       : Biomassa ikan pada waktu t (g)
            Wo       : Biomassa ikan pda awal pemeliharaan (g)
            Wd      : Bobot ikan yang mati (g)
3.4.3 Retensi Protein
            Retensi protein yaitu sejumlah protein dari pakan yang diberikan terkonversi menjadi protein yang tersimpan dalam tubuh ikan. Retensi protein menggunakan rumus:
RP= (F-I)Px100%
Keterangan:
F          : kandungan protein tubuh pada akhir pemeliharaan (gram)
I           : Jumlah Protein pada awal pemeliharaan (gram)
P          : Jumlah protein yang dikonsumsi ikan (gram)


3.4.4 Derajat Kelangsungan Hidup (Survival Rate)
Tingkat kelangsungan hidup merupakan presentasi jumlah ikan yang hidup pada waktu tertentu terhadap jumlah ikan pada awal tebar. Tingkat kelangsungan hidup akan menentukan keberhasilan produksi dan erat kaitannya dengan jumlah larva yang dihasilkan. Oleh karena itu, peningkatan kepadatan tebar harus diimbangi dengan peningkatan pakan baik kualitas maupun kuantitasnya serta kualitas air yang terkontrol, sehingga didapatkan tingkat kelangsungan hidup yang maksimal.
Survival rate (SR) atau tingkat kelangsungan hidup dapat dirumuskan sebagai berikut.
SR= NtNo x 100%
Keterangan :
SR       = survival rate (tingkat kelangsungan hidup) (%)
Nt        = jumlah ikan yang hidup selama masa pemeliharaan (ekor)
No       = jumlah ikan yang ditebar pada awal pemeliharaan (ekor) 
3.4.5 Retensi Lemak
Retensi lemak yaitu sejumlah lemak dari pakan yang diberikan terkonversi menjadi lemak yang tersimpan dalam tubuh ikan. Retensi lemak menggunakan rumus:
RL= (F-I)Lx100%
Keterangan:
F          : Kandungan lemak tubuh pada akhir pemeliharaan (gram)
            I           : Jumlah lemak pada awal pemeliharaan (gram)
            L          : Jumlah lemak yang dikonsumsi ikan (gram)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berikut ini merupakan grafik dan tabel hasil uji biologis pengaruh penggunaan berbagai jenis pakan dengan protein berbeda terhadap kinerja pertummbuhan ikan nila Oreochromis niloticus.
           


Grafik 1. Laju Pertumbuhan Spesifik Ikan Nila
Berdasarkan grafik laju pertumbuhan spesifik diketahui bahwa pada perlakuan B mendapatkan nilai tertinggi yaitu sebesar 7.33 % sedangkan pada perlakuan  E mendapatkan nilai terendah yaitu sebesar 2.24%.


Grafik 2. Efisiensi Pakan Ikan Nila
Berdasarkan grafik efisiensi pakan diketahui bahwa nilai terendah didapat oleh perlakuan D yaitu sebesar 6.7443% sedangkan pada perlakuan B mendapatkan nilai tertinggi yaitu sebesar 16.2722%. Berdasarkan nilai efisiensi pakan nilai terendah merupakan yang paling baik, sehingga perlakuan D merupakan perlakuan yang efisien.

Tabel 1. Kadar Protein Kering Ikan Akhir
No.
Kelompok
A
Vb
Vs
% Protein
1
A
0.4657
10.5
9.65
35.88
2
B
0.5239
10.5
9.35
37.52
3
C
0.5267
10.5
9.67
29.32
4
D
0.5466
10.5
9.51
27.33
5
E
0.5571
10.5
9.73
20.38

Berdasarkan data tabel protein ikan akhir diketahui pada perlakuan B memiliki kadar protein tertinggi yaitu sebesar 37.52% sedangkan pada perlakuan E  memiliki kadar protein terkecil yaitu sebesar 20.38%.


Grafik 3. Retensi Protein Ikan Nila

Berdasarkan grafik diatas diketahui bahwa pada perlakuan B mendapatkan nilai tertinggi yaitu sebesar 16.3433 % sedangkan nilai terkecil didapatkan oleh perlakuan E yaitu sebesar 5.7732%.

Tabel 2. Kadar Lemak Ikan Akhir
No.
Kelompok
A
X1
X2
% Lemak
1
A
2.0784
85.9791
86.1460
8.0302
2
B
1.9884
104.7003
104.8535
7.7046
3
C
2.2856
98.6767
98.8069
5.6965
4
D
2.0705
72.9930
73.1767
8.8722
5
E
2.4367
96.5269
96.6232
3.9520

Berdasarkan tabel kadar lemak ikan akhir diketahui bahwa kadar lemak tertinggi dimiliki oleh pakan D yaitu sebesar 8.8722% sedangkan kadar lemak terendah dimiliki oleh pakan E yaitu sebesar 3.9520%.


Grafik 4. Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Nila

Berdasarkan grafik tingkat kelangsungan hidup diketahui pada perlakuan B memiliki jumlah yang tinggi yaitu sebesar 100% sedangkan pada perlakuan C dan E diketahui meiliki jumlah yang sedikit yaitu sebesar 95%.

4.2 Pembahasan
            Kecernaan protein pada pakan ikan berbeda-beda tergantung kandungan serat kasar. Serat kasar yang tinggi menyebabkan porsi ekskreta lebih besar, sehingga menyebabkan semakin berkurangnya masukan protein yang dapat dicerna. Hal ini sesuai dengan pernyataan Cho, et al (1985) bahwa, serat kasar akan berpengaruh terhadap nilai kecernaan protein. Serat kasar yang tinggi menyebabkan porsi ekskreta lebih besar, sehingga menyebabkan semakin berkurangnya masukan protein yang dapat dicerna. Zat gizi pakan dan pertumbuhan ikan merupakan faktor pembatas dalam suatu model pertumbuhan. Selain itu, menurut Maynard, et al. (1979) bahwa kecernaan adalah bagian pakan yang dikonsumsi dan tidak dikeluarkan menjadi feses.
            Berdasarkan hasil perlakuan terhadap lima jenis pakan yaitu pakan A (pakan udang), pakan B (pakan Takari), pakan C (pakan Laju), pakan D (pakan Kendi mas), dan pakan E (pakan 788), diperoleh bahwa kecernaan pakan tertinggi diperoleh pada perlakuan pakan B yaitu pakan Takari sebesar 13.40% sedangkan, kecernaan pakan terendah diperoleh pada perlakuan pakan C yaitu jenis pakan udang sebesar 4.44%. Hal ini terkait pula dengan nilai retensi protein yang mengindikasikan jika retensi protein ikan akhir bernilai tinggi, maka kecernaan pakan yang dikonsumsi juga tinggi. Hal ini sesuai menurut Wooton, et al. (1980) bahwa semakin besar ukuran ikan, kecernaan komponen serat semakin baik. Selain faktor ukuran ikan, nilai kecernaan dipengaruhi oleh komposisi pakan, jumlah konsumsi, status fisiologi, dan cara pemberian pakan. Komposisi pakan tersebut salah satunya adalah protein.
Sementara itu, nilai retensi protein tertinggi diperoleh pada perlakuan pakan D yaitu 14.8031 sedangkan, nilai retensi protein terendah diperoleh pada perlakuan pakan A yaitu 1.2004. Artinya ikan yang diberi pakan D lebih mampu daripada ikan yang diberi pakan A untuk mengkonversi protein dalam pakan menjadi protein yang tersimpan dalam tubuhnya. Adapun yang mempengaruhi perbedaan nilai retensi pada pakan antara lain, adanya perbedaan pada sifat-sifat makanan yang diproses, termasuk kesesuaiannya untuk dihidrolisis oleh enzim dan aktivitas substansi-substansi yang terdapat di dalam pakan. Hal ini sesuai menurut Maynard, et al. (1979) bahwa kecernaan adalah bagian pakan yang dikonsumsi dan tidak dikeluarkan menjadi feses dan retensi protein merupakan salah satu contoh kecernaan protein.
Selain itu, laju pertumbuhan spesifik yang paling tinggi diperoleh pada perlakuan pakan A yaitu 6.11 sedangkan, laju pertumbuhan spesifik terendah diperoleh pada perlakuan pakan D yaitu 0.68.  Artinya pakan yang dimanfaatkan untuk pertumbuhan pada ikan dengan perlakuan pakan A lebih besar daripada pemanfaatan pakan untuk pertumbuhan pada ikan dengan perlakuan pakan D. Adapun yang mempengaruhi laju pertumbuhan spesifik pada pakan antara lain kemampuan ikan dalam mencerna dan memanfaatkan pakan untuk pertambahan bobot tubuh, serta formulasi pakan yang belum mengandung sumber nutrien yang tepat dan lengkap bagi ikan sehingga tidak dapat memacu pertumbuhan pada tingkat optimal. Hal ini sesuai menurut Wiadnya, et.al (2000), lambatnya pertumbuhan diduga disebabkan dua faktor utama, yaitu :
(1)               Kondisi internal ikan sehubungan dengan kemampuan ikan dalam mencerna dan memanfaatkan pakan untuk pertambahan bobot tubuh, (2) Kondisi eksternal pakan, yang formulasinya belum mengandung sumber nutrien yang tepat dan lengkap bagi ikaelain itu, sesuai dengan pernyataan Junianto (2003) bahwa kandungan keseimbangan nutrisi (protein, lemak, dan serat) pada pakan ikan akan memacu pertumbuhan ikan yang cepat tumbuh besar.
 
DAFTAR PUSTAKA

Akbar. 2000. Meramu Pakan Ikan Kerapu bebek, lumpur, macan, malabar. Jakarta: PT. Penebar Swadaya.

Anonim1. 2008. Keunggulan Ikan Nila.  http://www.ikannila.com/ [6 Mei 2010]

Anonim2. 2007. Kebutuhan Nutrisi Ikan Nila. http://www.ikannila.com. [6 Mei 2010]

Anonim3. 2003. Kualitas Protein Pakan. http://www.o-fish.com/Akuarium/KebutuhanNutrisi.htm. [6 Mei 2010]

Cowey dan Watanabe. 1985. Finfish Nutrition in Asia : Methodological approaches research Centre. Ottawa.

Effendi. 1979. Metodologi Biologi Perikanan. Bogor: Yayasan Dewi Sri.

Fitriah, H. 2004. Pengaruh Penambahan Dosis Karbon Berbeda Pada Media Pemeliharaan Terhadap Produksi Benih Lele Dumbo (Clarias sp.). Skripsi. Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Ikbal. 2006. Aplikasi Imunostimulan Pada Pakan Ikan Kerapu Bebek Cromileptes altivelis yang Dipelihara Di Jaring Apung [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Junianto. 2003. Teknik Penanganan Ikan. Jakarta: Penebar Swadaya.

Maynard, L.A., J.K. Loosli, H.F. Hintz, and R.G.Warner. 1979. Animal Nutrition. New Delhi: Seventh Edition McGraw-Hill Book Company.

Mujiman A. 1984. Makanan Ikan. Jakarta: PT. Penebar Swadaya.

Nurjanah N. 2005. Pengaruh Pemberian pakan Dengan Kadar Vitamin E Berbeda pada Kadar Asam Lemak n-3/n-6 Tetap 1:2 Terhadap Penampilan Reproduksi Ikan Zebra Brachydanio rerio Betina Bersalin [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Pulungan, H., J.E. Van Eys dan M. Rangkuti. 1985. Pemanfaatan Ampas Tahu sebagai Makanan Tambahan Domba Lepas Sapih yang Mendapat Rumput Lapangan.

Rankin, J.C. and F.B. Jensen. 1993. Fish Ecophysiology. London: Institute of Biology Odense. Denmark University. Chapman & Hall..

Shurtleff, W dan Aoyagi A. 1979. The Book of Tempeh. London: Harper and Row publishing

Sudjana, A. 1988. Pertumbuhan, Kelangsungan Hidup dan Produksi Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) yang dipelihara dalam kurungan Terapung pada Berbagai Padat Penebaran. Karya Ilmiah Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor.

Syamsunarno B M. 2008. Pengaruh Rasio Energi-Protein Yang Berbeda Pada Kadar Protein Pakan 30% Terhadap Kinerja Pertumbuhan Benih Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Wiadnya, D.G.R, Hartati, Y. Suryanti, Subagyo, dan A.M. Hariati. 2000. Periode
Pemberian Pakan yang Mengandung Kitin untuk Memacu Pertumbuhan dan Produksi Ikan Gurame (Osphronemtus goramy Lac.). Jurnal Peneltian Perikanan Indonesia.
Wooton, R.J, M. Allen, and S.J. Cole. 1980. Effect the body weight and temperature on the maximum daily food consumption of Gasterosteus aculeatus L.and Phoxinus phoxinus (L). Selecting and appropriate model. Journal of fish biology





1 komentar:

  1. bagi rekan2 pembudidaya ikan yg sedang cari2 pakan alternatif,kami juga menyediakan Azolla microphylla sebagai pakan ikan alternatif dengan kandungan protein yg tinggi.anda dapat membudidayakanya sendiri sebagai stok,azolla sangat cepat berkembang biak,mudah di budidayakan.dengan membudidayakan azolla,anda serasa punya pabrik pakan sendiri.info hub 085264608009 (http://www.kaskus.co.id/post/50fecc3d7d12436208000003#post50fecc3d7d12436208000003)

    BalasHapus